• humas@usni.ac.id
  • 082128587517
  • (021) 739 8393
Logo USNI
  • Home
  • Tentang Kami
    • Mengenal USNI
    • Struktur Organisasi
  • Program Studi
    • Sarjana (S1)
    • Pascasarjana (S2)
    • RPL
  • Sistem Akademik
    • SIAKAD Mahasiswa
    • SIAKAD Dosen
  • Pusat Keilmuan
    • Perpustakaan
    • Rumah Jurnal
  • Tautan
    • Blog
    • Event USNI
    • Referal Agent
    • Booking Room
  • Kemahasiswaan
    • Prestasi Mahasiswa
  • Pusat Karier
    • Karir
    • Alumni
    • Kerja Sama
  • Kontak
|
Pendaftaran
  • Konsultasi PMB
  • Portal PMB
Logo USNI

Jadi versi terbaik diri!

  • humas@usni.ac.id
  • (021) 739 8393
  • Home
  • Tentang Kami
    • Mengenal USNI
    • Struktur Organisasi
  • Program Studi
    • Sarjana (S1)
    • Pascasarjana (S2)
    • RPL
  • Sistem Akademik
    • SIAKAD Mahasiswa
    • SIAKAD Dosen
  • Pusat Keilmuan
    • Perpustakaan
    • Rumah Jurnal
  • Tautan
    • Blog
    • Event USNI
    • Referal Agent
    • Booking Room
  • Kemahasiswaan
    • Prestasi Mahasiswa
  • Pusat Karier
    • Karir
    • Alumni
    • Kerja Sama
  • Kontak
Pendaftaran
Bahasa
|
Find Us

USNI Lecture Series 2026: Memahami “Indonesia as a State of Mind” dan Cara Berpikir di Era AI

Blog Images

Jakarta, 26 September 2026 - Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) menggelar USNI Lecture Series 2026 dengan tema Indonesia as a State of Mind: Tanggung Jawab, Institusi, dan Masa Depan yang Kita Pilih di Auditorium USNI. Menghadirkan Prof. Dr. Fransisco Budi Hardiman, profesor bidang filsafat dan tokoh publik, kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk merefleksikan cara berpikir masyarakat Indonesia di tengah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), media sosial, dan arus informasi yang semakin kompleks.

USNI Lecture Series merupakan program diskusi intelektual yang digelar secara berkala sebagai bagian dari transformasi USNI. Program ini mempertemukan akademisi, praktisi, pemimpin industri, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum dalam ruang pembelajaran yang terbuka, reflektif, dan inklusif.

Mengusung tema besar “Indonesia as a State of Mind”, USNI Lecture Series membahas berbagai isu strategis yang relevan dengan perkembangan sosial, budaya, teknologi, serta masa depan Indonesia melalui perspektif lintas disiplin.

Dalam sambutannya, Rektor USNI Dr. Sihar P.H. Sitorus, B.S.B.A., M.B.A., menegaskan bahwa USNI Lecture Series tidak sekadar menjadi rangkaian acara diskusi, tetapi merupakan bagian dari upaya universitas membangun budaya intelektual.

“Hari ini sebenarnya kita tidak sekadar membuka sebuah acara, tetapi kita membuka ruang berpikir,” ujar Dr. Sihar.

Ia mengajak peserta untuk merefleksikan tiga pertanyaan mendasar: manusia seperti apa yang ingin dibentuk, institusi seperti apa yang ingin dibangun, dan Indonesia seperti apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

Gagasan tersebut kemudian diperdalam oleh Prof. Budi melalui paparannya bertajuk “The Soul of Rationality”. Ia mengajak peserta melihat Indonesia bukan hanya sebagai negara atau entitas geografis, tetapi juga sebagai cara berpikir, cara bertindak, dan pilihan bersama mengenai masa depan. 

Menurut Prof. Budi, gagasan Indonesia as a State of Mind menjadi semakin relevan ketika cara manusia memahami dunia semakin dipengaruhi oleh algoritma, AI, media sosial, dan arus informasi yang sangat besar. Kondisi tersebut menghadirkan berbagai bentuk ketidakpastian, mulai dari pertanyaan mengenai apa yang nyata, bagaimana manusia mengetahui sesuatu, hingga siapa atau apa yang menentukan sesuatu sebagai bernilai.

Perkembangan teknologi juga membuat manusia semakin sering mengalami dunia melalui representasi digital. Jika sebelumnya masyarakat dapat berbeda pendapat tetapi masih berbagi dunia yang sama, kini terdapat kondisi ketika masyarakat dapat tinggal di negara yang sama tetapi semakin hidup dalam dunia digital yang berbeda-beda.

Prof. Budi menyebut kondisi tersebut sebagai persoalan hilangnya “dunia bersama” (gemeinsame Welt), yaitu ruang yang memungkinkan manusia memiliki fakta, bahasa, norma, dan pengalaman yang menjadi acuan untuk memahami satu sama lain.

“Dahulu, kita berbeda pendapat, tetapi masih berbagi dunia. Sekarang, kita bisa berbagi negara, tetapi tidak lagi berbagi dunia,” ungkap Prof. Budi.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan teknologi. Algoritma dan media sosial juga dapat memengaruhi cara manusia menentukan apa yang dianggap penting, benar, normal, dan bernilai. Popularitas, likes, views, serta viralitas berpotensi menjadi ukuran baru yang menggantikan proses penilaian yang lebih reflektif.

Kondisi ini kemudian berdampak pada kehidupan publik. Ketika masyarakat tidak lagi memiliki acuan bersama, perbedaan pendapat dapat semakin sulit diarahkan menjadi dialog yang produktif. Dalam ruang digital, sesuatu yang emosional dan mudah menjadi viral dapat memperoleh perhatian lebih besar dibandingkan argumen yang membutuhkan proses berpikir lebih panjang.

Lima Cara Berpikir di Era Artificial Intelligence

Untuk menghadapi tantangan di era AI, Prof. Budi menawarkan lima cara berpikir, yaitu Experiential Thinking, Fact-Based Thinking, Contemplative Thinking, Historical Thinking, dan Transformational Thinking. Kelimanya mendorong manusia untuk kembali terhubung dengan realitas, membedakan fakta dan interpretasi, menyediakan ruang untuk refleksi, memahami sejarah dan komunitas, serta terbuka terhadap perbedaan.

Kelima cara berpikir tersebut bermuara pada satu kebutuhan, yaitu memulihkan dunia bersama. Masyarakat tidak harus memiliki pemikiran yang sama, tetapi membutuhkan ruang untuk saling mendengar, memahami, dan berdialog secara bermakna.

Gagasan ini sejalan dengan arah USNI Lecture Series sebagai bagian dari transformasi universitas. Dr. Sihar menekankan pentingnya menjadikan universitas sebagai ruang untuk belajar bertanya, mendengar sebelum menyimpulkan, dan terbuka terhadap kemungkinan bahwa pemikiran yang dimiliki dapat keliru.

“Universitas tidak boleh hanya menjadi tempat dosen memberi jawaban dan mahasiswa hanya mengingatnya. Kita mau universitas, khususnya USNI, menjadi tempat belajar bertanya,” kata Dr. Sihar.

USNI berharap Lecture Series berkembang menjadi ruang pertukaran gagasan lintas disiplin. Setelah mengangkat perspektif filsafat pada sesi perdana, rangkaian berikutnya akan menghadirkan perspektif keilmuan lain untuk memperluas cara pandang terhadap isu Indonesia dan masa depannya.

Melalui Lecture Series 2026, USNI ingin menghadirkan ruang intelektual bagi masyarakat untuk menguji cara berpikir, mengajukan pertanyaan, dan membangun dialog. Sebab, tantangan di tengah perkembangan AI bukan sekadar menyatukan suara, melainkan memastikan perbedaan tetap memiliki ruang bersama untuk saling mendengar, memahami, dan bertindak.

Logo Usni

Kampus yang bantu kamu #jadiversiterbaikdiri agar siap bersaing, dengan kurikulum berbasis kewirausahaan yang kreatif & kolaboratif.

Daftar Sekarang
Useful Links
  • Portal PMB
  • Portal Mahasiswa
  • Portal Orang Tua
  • Portal Dosen
Our Company
  • Perpustakaan
  • Repository
  • Rumah Jurnal
Get Contact
  • Phone: (021) 739 8393
  • E-mail: humas@usni.ac.id
  • Location: Jl. Arteri Pondok Indah No. 11 Kebayoran Lama Jakarta Selatan

Copyright © 2025 Pustikom USNI All Rights Reserved