Jakarta, 12 Februari 2026 - Semangat menjadi versi terbaik diri bukan hanya soal motivasi sesaat, tetapi tentang bagaimana seseorang mengelola waktu secara konsisten dan terarah. Hal inilah yang menjadi benang merah dalam kegiatan Bedah Buku & Workshop The 5 AM Club yang menghadirkan Dr. Edi Siregar, S.Pd., S.Mn., M.M., Dosen Manajemen Universitas Satya Negara Indonesia (USNI).
Acara yang diselenggarakan Biro Pusat Pengetahuan dan Perpustakaan ini mengupas buku karya Robin Sharma berjudul The 5 AM Club. Dr. Edi menekankan bahwa inti dari konsep ini bukan sekadar bangun pukul lima pagi, melainkan bagaimana seseorang memaknai dan mengelola waktu.
Menurut Dr. Edi, kata “five” dalam The 5 AM Club menegaskan pentingnya waktu. Setiap manusia diberikan jatah yang sama: 24 jam sehari. Tidak ada yang lebih, tidak ada yang kurang. Perbedaannya terletak pada bagaimana waktu tersebut dikelola.
“Waktu itu konstan. Semua manusia diberi 24 jam. Maka yang membedakan adalah bagaimana kita mengelolanya secara terus-menerus hingga menjadi rutinitas, lalu kebiasaan, dan akhirnya membentuk kehidupan kita,” jelasnya.
Ia menambahkan, konsep “club” dalam buku tersebut menggambarkan kelompok orang-orang yang berhasil karena konsisten menjalankan kebiasaan positif. Oleh sebab itu, buku ini dinilainya layak dibaca oleh siapa pun yang ingin mendapatkan arahan dan panduan dalam mengelola waktu untuk mencapai kesuksesan.
Salah satu tantangan terbesar dalam membangun kebiasaan bangun pagi adalah menjaga konsistensi. Banyak orang bersemangat di awal, namun perlahan kehilangan motivasi.
Menanggapi hal ini, Dr. Edi menekankan pentingnya komunitas atau support system. Ia mengibaratkan bahwa burung dengan jenis yang sama akan terbang bersama. Begitu pula manusia akan lebih kuat jika berada dalam lingkungan dengan frekuensi, visi, dan misi yang selaras.
“Kita harus mencari teman, kelompok, atau partner yang memiliki aktivitas dan tujuan yang sama. Dengan begitu, kita saling menyemangati untuk tetap konsisten, konsekuen, dan berkomitmen,” ujarnya.
Kebiasaan positif, menurutnya, tidak cukup dibangun sendirian. Dukungan lingkungan menjadi faktor penting agar semangat tidak berhenti di tengah jalan.
Dalam buku tersebut, Robin Sharma juga memperkenalkan metode 20/20/20, yakni pembagian satu jam pertama di pagi hari menjadi tiga bagian: 20 menit olahraga, 20 menit refleksi, dan 20 menit belajar atau pengembangan diri.
Namun, Dr. Edi menyampaikan pandangan kritisnya. Secara pribadi, ia memaknai dan menerapkan urutan tersebut dengan pendekatan yang berbeda.
“Robin Sharma mengutamakan aktivitas fisik terlebih dahulu, lalu perenungan. Secara pribadi, saya justru memilih merenung dan mendekatkan diri kepada pencipta terlebih dahulu, baru melakukan aktivitas lainnya,” tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa dalam teori olahraga, aktivitas fisik yang memberi dampak signifikan terhadap otot-otot besar umumnya memerlukan waktu minimal 30 menit. Karena itu, ia lebih memilih menyesuaikan konsep tersebut dengan prinsip dan keyakinan yang ia miliki.
Baginya, setiap konsep pengembangan diri perlu dipahami secara kritis dan diadaptasi sesuai kebutuhan serta nilai personal masing-masing individu.
Melalui diskusi dan workshop ini, peserta diajak untuk menyadari bahwa bangun pagi bukan tujuan akhir. Ia hanyalah pintu masuk untuk membangun disiplin, konsistensi, dan kualitas diri yang lebih baik.
Momentum pagi menjadi ruang strategis untuk refleksi, perencanaan, serta penguatan fisik dan mental sebelum menghadapi tantangan hari. Dengan pengelolaan waktu yang tepat, dukungan komunitas yang sehat, dan penerapan konsep secara bijak, setiap individu memiliki peluang untuk benar-benar menjadi #JadiVersiTerbaikDiri.
Kegiatan ini tidak hanya membedah isi buku, tetapi juga mendorong peserta untuk membangun kesadaran bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.